Berita
Kamis, 31 Desember 2009 11:11:18
Ulasan
Facebook dan Konsep Diri: Haruskah Dikhawatrikan?
Kategori: Umum (592 kali dibaca)
oleh Dian Budiargo, kandidat doktor Ilmu Komunikasi UI
Gaya “gaul” anak–anak, terutama di perkotaan, dapat kita teropong antara lain melalui situs jejaring sosial Facebook (Fb). Menjadi pertanyaan, apakah kehadiran FB mengganggu perkembangan anak?
Karena FB adalah situs pertemanan dan berfokus pada interaksi, ada baiknya kita telusuri bagaimana anak-anak berinteraksi.
Di masa kecil, anak mengembangkan apa yang disebut konsep diri. Isi dari konsep diri adalah gabungan dari kapasitas kognisi dan bagaimana hubungannya dengan pihak lain. Mereka menjustifikasi diri mereka baik dari sisi penampilan, kemampuan, dan perilaku dalam hubungannya dengan orang lain.
Di usia 4-6 tahun anak membandingkan dengan satu kelompoknya saja. Namun semakin besar anak akan membandingkan dengan banyak individu yang ada di sekitarnya. Mereka menjadi pembaca yang baik, mencoba menginternalisasikan harapan orang lain untuk membentuk diri mereka yang dianggap ideal. Di masa inilah, proses interaksi sosial menjadi penting dan berperan dalam pembentukan konsep diri.
Kita sebagai manusia tak pernah bisa hidup sendiri, selalu bersosialisasi dengan orang lain. Di masa balita, interaksi terjadi hanya dengan orang-orang dekat (ibu, ayah, saudara, “mbak” di rumah). Makin lama, interaksi semakin luas, mulai dengan lingkungan di luar rumah dan sekolah. Nah dengan adanya Fb, interaksi dengan dunia luar tidak terbatasi lagi, siapa pun dapat dengan mudah berinteraksi dengan kita.
Konsep diri terbentuk karena adanya interaksi dengan orang lain. Tatkala interaksi yang terjadi masih melalui tatap muka (face to face), konteks dan wacana menjadi faktor penting. Konteks adalah lingkungan dan segala sesuatu yang sifatnya fisik, seperti penampilan, gaya bicara, budaya dan juga situasi serta kondisi di mana interaksi terjadi. Sedangkan wacana adalah topik bahasan yang dijadikan pokok pembicaraan.
Lain halnya dengan interaksi melalui Fb. Pada Fb yang ada hanyalah pokok bahasan atau wacana, sedangkan konteksnya hilang. Akibat interaksi melalui Fb akan membuat orang kehilangan makna kontekstualnya, dikawatirkan anak yang banyak berinteraksi melalui Fb juga akan kehilangan budayanya sendiri. Identitas diri mereka sebagai “anak” Indonesia akan menurun.
Facebook adalah hasil kemajuan teknologi komunikasi yang mau tidak mau harus diterima keberadaannya. Yang perlu dicermati adalah bagaimana memahami pola komunikasi melalui Fb dan apa dampaknya bagi anak kita. Secara teoritis, Fb adalah jaringan sosial yang memberikan kemudahan bagi kita untuk berinteraksi dengan siapa pun dari belahan dunia mana pun, sehingga dapat memberikan banyak teman dan informasi.
Namun di balik itu, ada hal lain yang harus diperhatikan. Tapscott (2009) menyebutkan bahwa berinteraksi melalui Fb dapat membuat anak menjadi narsis, teralienasi, dan tidak berani menghadapi kenyataan. Narsis adalah suatu rasa percaya diri yang demikian besar --hanya saja rasa percaya diri ini terjadi pada interaksi online. Anak teralienasi atau lebih senang menyendiri, karena asyik dengan komputer atau blackberry (BB)-nya.
Sesuai dengan slogan BB, “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat”, maka jika diperhatikan dengan adanya pertemanan melalui Fb ini, sering anak mengabaikan apa yang ada di sekitarnya termasuk norma dan budayanya. Yang lebih mengkhawatirkan, kebiasaan berkomunikasi melalui Fb membuat anak tidak terbiasa bertatap muka dengan pihak lain, atau menjadi tidak percaya diri jika offline.
Selalu ada dua sisi yang diakibatkan oleh kehadiran teknologi komunikasi. Yang harus diperhatikan adalah bukan membuang atau menghindarinya, tetapi bagaimana kita menyikapi kehadirannya dan dapat memanfaatkannya secara bijak.
Facebook adalah sarana komunikasi, benda mati. Positif dan negatifnya tergantung bagaimana kita menggunakannya. Dari hasil pengamatan, kehadiran Fb lebih memberikan dampak positif bagi anak yang memang tidak bermasalah, namun sebaliknya negatif bagi anak yang bermasalah. Fb sendiri sebenarnya lebih condong merupakan gaya hidup bagi anak, bukan suatu kebutuhan.
Pembentukan konsep diri anak lebih terbangun melalui pola interaksi secara tatap muka atau offline daripada melalui online atau Fb. Pola interaksi ini meliputi interaksi anak dengan orang tua, dengan teman sebaya atau sepermainan, dan dengan sekolah atau guru.
Dengan demikian, kita tidak perlu kawatir dengan maraknya situs pertemanan ini. Boleh-boleh saja anak ber-Fb-ria. Yang harus terus dijaga adalah bagaimana interaksi anak dengan ketiganya (orang tua, lingkungan, dan pendidikan) itu. Sepanjang interaksi anak dengan ketiga agen sosialisasi ini terbina dengan baik, maka konsep diri yang melekat pada anak-anak akan tetap dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang mereka baca. (NM)
(Kidia)
Gaya “gaul” anak–anak, terutama di perkotaan, dapat kita teropong antara lain melalui situs jejaring sosial Facebook (Fb). Menjadi pertanyaan, apakah kehadiran FB mengganggu perkembangan anak?
Karena FB adalah situs pertemanan dan berfokus pada interaksi, ada baiknya kita telusuri bagaimana anak-anak berinteraksi.
Di masa kecil, anak mengembangkan apa yang disebut konsep diri. Isi dari konsep diri adalah gabungan dari kapasitas kognisi dan bagaimana hubungannya dengan pihak lain. Mereka menjustifikasi diri mereka baik dari sisi penampilan, kemampuan, dan perilaku dalam hubungannya dengan orang lain.
Di usia 4-6 tahun anak membandingkan dengan satu kelompoknya saja. Namun semakin besar anak akan membandingkan dengan banyak individu yang ada di sekitarnya. Mereka menjadi pembaca yang baik, mencoba menginternalisasikan harapan orang lain untuk membentuk diri mereka yang dianggap ideal. Di masa inilah, proses interaksi sosial menjadi penting dan berperan dalam pembentukan konsep diri.
Kita sebagai manusia tak pernah bisa hidup sendiri, selalu bersosialisasi dengan orang lain. Di masa balita, interaksi terjadi hanya dengan orang-orang dekat (ibu, ayah, saudara, “mbak” di rumah). Makin lama, interaksi semakin luas, mulai dengan lingkungan di luar rumah dan sekolah. Nah dengan adanya Fb, interaksi dengan dunia luar tidak terbatasi lagi, siapa pun dapat dengan mudah berinteraksi dengan kita.
Konsep diri terbentuk karena adanya interaksi dengan orang lain. Tatkala interaksi yang terjadi masih melalui tatap muka (face to face), konteks dan wacana menjadi faktor penting. Konteks adalah lingkungan dan segala sesuatu yang sifatnya fisik, seperti penampilan, gaya bicara, budaya dan juga situasi serta kondisi di mana interaksi terjadi. Sedangkan wacana adalah topik bahasan yang dijadikan pokok pembicaraan.
Lain halnya dengan interaksi melalui Fb. Pada Fb yang ada hanyalah pokok bahasan atau wacana, sedangkan konteksnya hilang. Akibat interaksi melalui Fb akan membuat orang kehilangan makna kontekstualnya, dikawatirkan anak yang banyak berinteraksi melalui Fb juga akan kehilangan budayanya sendiri. Identitas diri mereka sebagai “anak” Indonesia akan menurun.
Facebook adalah hasil kemajuan teknologi komunikasi yang mau tidak mau harus diterima keberadaannya. Yang perlu dicermati adalah bagaimana memahami pola komunikasi melalui Fb dan apa dampaknya bagi anak kita. Secara teoritis, Fb adalah jaringan sosial yang memberikan kemudahan bagi kita untuk berinteraksi dengan siapa pun dari belahan dunia mana pun, sehingga dapat memberikan banyak teman dan informasi.
Namun di balik itu, ada hal lain yang harus diperhatikan. Tapscott (2009) menyebutkan bahwa berinteraksi melalui Fb dapat membuat anak menjadi narsis, teralienasi, dan tidak berani menghadapi kenyataan. Narsis adalah suatu rasa percaya diri yang demikian besar --hanya saja rasa percaya diri ini terjadi pada interaksi online. Anak teralienasi atau lebih senang menyendiri, karena asyik dengan komputer atau blackberry (BB)-nya.
Sesuai dengan slogan BB, “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat”, maka jika diperhatikan dengan adanya pertemanan melalui Fb ini, sering anak mengabaikan apa yang ada di sekitarnya termasuk norma dan budayanya. Yang lebih mengkhawatirkan, kebiasaan berkomunikasi melalui Fb membuat anak tidak terbiasa bertatap muka dengan pihak lain, atau menjadi tidak percaya diri jika offline.
Selalu ada dua sisi yang diakibatkan oleh kehadiran teknologi komunikasi. Yang harus diperhatikan adalah bukan membuang atau menghindarinya, tetapi bagaimana kita menyikapi kehadirannya dan dapat memanfaatkannya secara bijak.
Facebook adalah sarana komunikasi, benda mati. Positif dan negatifnya tergantung bagaimana kita menggunakannya. Dari hasil pengamatan, kehadiran Fb lebih memberikan dampak positif bagi anak yang memang tidak bermasalah, namun sebaliknya negatif bagi anak yang bermasalah. Fb sendiri sebenarnya lebih condong merupakan gaya hidup bagi anak, bukan suatu kebutuhan.
Pembentukan konsep diri anak lebih terbangun melalui pola interaksi secara tatap muka atau offline daripada melalui online atau Fb. Pola interaksi ini meliputi interaksi anak dengan orang tua, dengan teman sebaya atau sepermainan, dan dengan sekolah atau guru.
Dengan demikian, kita tidak perlu kawatir dengan maraknya situs pertemanan ini. Boleh-boleh saja anak ber-Fb-ria. Yang harus terus dijaga adalah bagaimana interaksi anak dengan ketiganya (orang tua, lingkungan, dan pendidikan) itu. Sepanjang interaksi anak dengan ketiga agen sosialisasi ini terbina dengan baik, maka konsep diri yang melekat pada anak-anak akan tetap dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang mereka baca. (NM)
Komentar Terkini (0 komentar)
Belum ada komentar

