Workshop Pendidikan Media
Berita
Jumat, 11 April 2008 15:41:39
Telaah Kritis Program Televisi Untuk Anak
Kategori: Umum (490 kali dibaca)

Oleh Wiwit Wijayanti

Alhamdulillah, hari Kamis, 3 April 2008 lalu, WRM Yogyakarta yang
bekerja sama dengan Pusat Kajian Media dan Budaya Populer telah
mengadakan diskusi anak & media yang diberi judul "Telaah Kritis
Program Televisi Untuk Anak-Anak".

Diskusi tersebut sudah berlangsung dengan baik & lancar. Dari sisi
jumlah peserta yang hadir memang tidak banyak, tapi cukup mewakili
berbagai pihak yang mempunyai kepentingan terhadap televisi dan
anak.seperti Ketua KPID Yogyakarta, perwakilan Aliansi Jurnalis
Independen (AJI), akademisi, pengamat media dari beberapa LSM, orang
tua dan wartawan.

Diskusi dimulai dengan penyampaian keluhan orang tua oleh Mom Yunita
Candra dari We Are Mommies. Bagaimana tayangan program anak-anak di
televisi saat ini sangat meresahkan orang tua. Program audisi penyanyi
anak dengan materi lagu-lagu dewasa, film-film dengan muatan kekerasan
dan bahasa yang kasar, sinetron anak yang menceritakan kisah
percintaan orang dewasa, dan lain-lain. Ironisnya program yang dinilai
bagus justru ditayangkan pada jam istirahat anak. Orang tua yang melek
media dan mempunyai waktu untuk terus mendapingi anak dalam menonton
televisi bisa mengarahkan untuk memilih program yang baik, menjelaskan
saat ada program yang kurang baik, namun sayangnya tak semua orang tua
punya kesempatan itu. Sebagian orang tua harus bekerja dan sulit untuk
membuat pengasuh anak untuk dapat mengerti tentang penyaringan
tontonan ini. Karena keprihatinan ini, orang tua mengharapkan televisi
mau membantu dalam pendidikan anak-anak dengan menyajikan tontonan
anak yang lebih baik dan edukatif dengan kemasan yang menarik

Narasumber kedua, Ibu Sutarimah Ampuni, seorang psikolog anak
membawakan makalah dengan judul sangat menarik "Ingin anak anda dewasa
lebih cepat? Biarkan dia hidup bersama TV setiap hari!" Dalam
tulisannya, beliau mendiskripsikan hal-hal yang dimuat oleh tayangan
anak saat ini antara lain adalah penggunaan bahasa orang dewasa,
pengangkat permasalahan orang dewasa yang dikemas dalam cerita untuk
anak dan merusak logika anak, serta melanggar batas kehidupan wajar
anak-anak serta memaksa anak berkembang melebihi seharusnya. Karena
dilihat dari sisi pesertanya, mereka adalah anak-anak yang sebetulnya
belum siap untuk tampil dan disaksikan oleh sekian juta orang, menjadi
idola & dielu-elukan. Yang dikhawatirkan adalah jika setelah masa
festival itu selesai dan mereka tidak menjadi orang terkenal lagi,
mereka akan mengalami kondisi psikologis yang buruk.

Ibu Rahayu, narasumber terakhir dari sisi pengkaji media menjelaskan
bahwa memang saat ini kita dalam posisi yang karut-marut. Saat ini
terjadi peningkatan rata-rata 11-15% jumlah pemirsa anak-anak.

Pertambahan waktu mencapai 15% pada pukul 18.00 - 21.00 dimana saat
itu disiarkan program untuk remaja dan dewasa. Dari sini dapat
diprediksi bahwa anak-anak pun mengkonsumsi program yang tidak sesuai
dengan karakteristiknya. Saat yang orang tua merasa gelisah dengan
program yang disajikan televisi harus berhadapan dengan industri yang
mempunyai begitu banyak kepentingan. Maka hal terpenting yang harus
dilakukan orangtua adalah menciptakan kultur menonton yang sesuai di
rumah masing-masing.

Dalam diskusi selanjutnya, diperoleh beragam cerita tentang kultur
menonton di keluarga masing-masing. Di satu keluarga, televisi hanya
ada di kamar asisten rumah tangga saja, di keluarga yang lain sama
sekali tidak ada televisi sehingga di keluarga-keluarga ini anak tidak
terbiasa menonton televisi, sehingga ketika pada suatu kesempatan
mereka disuguhi tontonan televisi anak tidak tertarik. Di keluarga
lain yang menyediakan televisi sebagai sarana hiburan keluarga, baik
hanya di ruang keluarga saja atau bahkan di masing-masing kamar,
diberlakukan aturan menonton yang ketat meliputi pemilihan program dan
jadwal menonton.

Kesimpulan yang didapat dari diskusi ini adalah sebagai berikut :

1. Yang paling penting dilakukan oleh orang tua adalah untuk selalu
mendampingi anak saat menonton TV agar dapat menjelaskan kepada anak
jika terlihat ada sajian yang tidak sesuai untuk mereka. Jika harus
mendelegasikan tugas itu kepada pengasuh, yakinkan bahwa pengasuh itu
bisa memahami misi kita dengan baik.

2. Membentuk kultur menonton yang baik. Meliputi mengarahkan anak
bagaimana memilih tontonan yang baik dan membuat jadwal/pembatasan
waktu menonton. Mulai dari anak-anak sendiri, meluas ke keluarga dan
lingkungan di luar keluarga.

Lalu bagaimana dengan bagian masyarakat lain yang saat ini belum melek
media? Karena anak kita pun berinteraksi dengan anak-anak yang orang
tuanya belum melek media sehingga masih mengkonsumsi proranm-program
TV yang tidak pas.

Untuk ini yang bisa dilakukan adalah:

1. Terus mengkritisi program TV dengan menyampaikan keluhan dan saran
kepada pemerintah, KPI/D dan stasiun TV terkait. Menurut salah satu
peserta yang pernah bekerja di bagian pemberitaan salah satu stasiun
televisi, setiap masukan (terutama yang berupa kritik) yang
disampaikan pasti akan diperhatikan. Jika gelombang kritik itu semakin
besar, lambat laun stasiun televisi pasti akan berpikir untuk meninjau
programnya.

2. Membuat jaringan untuk advokasi literasi media. Dalam diskusi ini,
KPID Yogyakarta telah memberikan kesediaan untuk memfasilitasi semua
pihak yang peduli agar bisa memberikan pembelajaran tentang media
kepada masyarakat yang lebih luas. Seperti yang dilakukan oleh KPID
Yogya saat ini, menggandeng mahasiswa KKN untuk memberikan pelajaran
media literasi di lokasi-lokasi KKN-nya. Selain itu, kegiatan awal
yang akan dilakukan adalah membuat milis Peduli TV, selain untuk
membentuk jaringan juga untuk menampung banyak masukan terhadap TV.

3. Membuat penelitian tentang jumlah konkrit pemirsa anak-anak dan apa
saja yang mereka tonton, serta bagaimana efek tontonan itu terhadap
anak (penelitian tentang hal ini sampai sekarang belum ada) . Hal ini
penting untuk pemerintah dan pihak berwenang lainnya untuk menentukan
kebijakan.

Yuk moms! Kita tingkatkan kepekaan kita terhadap media. Kita mulai
dari keluarga dan lingkungan terdekat. Semoga dengan kerjasama yang
baik dari semua pihak yang peduli anak dan media, akan semakin banyak
program televisi yang tepat dan bermanfaat bagi pendidikan anak.

(We Are Mommies Yogyakarta)

Sumber: http://wrm-indonesia.org/content/view/1278/1/

(*)
 
 
Not Rated!
 
Komentar Terkini (0 komentar)
Belum ada komentar