Workshop Pendidikan Media
Berita
Jumat, 04 April 2008 19:21:48
Catatan Rapat 1 "Hari Tanpa TV 2008"
Kategori: Umum (565 kali dibaca)

 

RAPAT_1_HTT_2008/RAPAT_2_HTT_2008.jpgRAPAT_1_HTT_2008.jpgRAPAT_1_HTT_2008/RAPAT_3_HTT_2008.jpgRAPAT_1_HTT_2008/RAPAT_4_HTT_2008.jpg

Rapat dipimpin oleh Guntarto, dari YPMA. Dihadiri oleh 23 orang yang berasal dari Universitas Prof. Dr. Moestopo (B), Universitas Paramadina, Universitas Negeri Jakarta - Jurusan PAUD, mahasiswa Jur Ilmu Komunikasi FISIPOL Universitas Gadjah Mada, mahasiswa Desain Grafis Universitas Pelita Harapan, Langkah Kita, Genap, Sejiwa, YKBH, Yayasan Daarut Tauhid, SD Karakter, Korak Anak Berani, PP. Aisyiah, dan dari YPMA.

Rapat diawali dengan pemutaran video dokumentasi Hari Tanpa TV tahun 2007 yang mencakup kegiatan Press Conference, Aksi Damai di Bundaran HI, dan kegiatan alternatif di Taman Monas. Setelah itu, disampaikan paparan mengenai makna, tujuan, dan strategi pelaksanaan HTT. Juga dibagikan kompilasi laporan pelaksanaan HTT tahun 2006 dan 2007, dan contoh-contoh poster, stiker dan flyer HTT.

I. SEKILAS TENTANG HARI TANPA HARI TANPA TV (HTT)
Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) dan Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) telah melaksanakan Hari Tanpa TV sejak tahun 2006. Tujuan dari pelaksanaan HTT adalah mengajarkan kepada semua orang bahwa tanpa TV-pun hidup akan tetap menyenangkan, sekaligus upaya mendesak industri penyiaran untuk lebih memperhatikan kepentingan anak dan remaja.
HTT selalu dilaksanakan terkait dengan perayaan Hari Anak Nasional, yang tahun ini jatuh pada hari Rabu, 23 Juli 2008. Maka HTT 2008 akan dilaksanakan pada hari Minggu 20 Juli 2008.
Bentuk kegiatan yang akan dilakukan hampir sama seperti tahun lalu, seperti persiapan (memproduksi materi kampanye); konfrensi pers (5 hari sebelum hari H); Aksi damai (2 hari sebelum hari H di HI); Hari H-kegiatan alternatif dan pemantauan.
Peran serta yang diharapkan dari para mitra a.l ikut serta dalam rapat persiapan, konstribusi dana untuk materi kampanye, ikut serta dalam penyebarluasan ide HTT, menyelenggarakan kegiatan alternatif untuk anak di hari H (yang dapat dilakukan di lingkungan masing-masing); melakukan pemantauan pada hari H.

II. TANGGAPAN DAN MASUKAN

  1. Bpk. Farid (Paramadina) merasa bahwa sosialisasi HTT 2007 di Makasar masih sangat kurang bisa menjangkau partisipan, khususnya sasaran utama yaitu ortu/ibu-ibu. Oleh karena itu untuk tahun ini yang perlu lebih diperhatikan adalah sosialisasi. Selain itu perlu juga dijajaki kemungkinan bekerjasama dengan institusi di daerah, seperti KPID.
  2. Bpk. Bandri (Langkah Kita) mengatakan bahwa perlu juga perlu memperhatikan rating Nielsen untuk melihat apakah HTT berpengaruh terhadap pola menonton TV masyarakat. Selain itu, hal yang perlu dilakukan adalah melakukan evaluasi terhadap kegiatan ini, khususnya mengenai kegiatan alternatif, bagaimana keluarga (khususnya ayah & ibu) mau bermain dengan anak-anaknya & buat jaringan dengan RT/RW. Semua ini tidak bisa bila hanya dilakukan pada hari H, karena butuh waktu yang tidak sebentar untuk menumbuhkan kesadaran tersebut. Apabila HTT dianggap berhasil maka perlu diteruskan dengan kegiatan Seminggu Tanpa TV.
  3. Ibu Diena (Yayasan Sejiwa) sangat setuju dengan kegiatan ini karena TV membuat keluarga sangat tidak kreatif, dan untuk menciptakan keluarga kreatif tidak bisa bila hanya dilakukan satu tahun sekali. Ibu Diena juga akan menyuarakan kegiatan HTT dalam Workshop Bullying Nasional yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 Mei. Selain itu perlu disampaikan berbagai alasan rasional mengapa HTT perlu dilakukan.
  4. Bunda Aini (PAUD-UNJ) menyarankan mengganti nama HTT menjadi "Hari Cerdas Menonton TV". Lalu pada kegiatan alternatif perlu juga dilakukan kegiatan yang bersifat edukasi bagi masyarakat terkait dengan cerdas dalam mengkonsumsi TV. Bunda Aini juga berharap bisa berpartisipasi dalam kegiatan ini.
  5. Mediana (UPDM(B)) menyatakan bahwa HTT terkait dengan event khusus yang bersifat simbolis dan agenda jangka panjang yang sarat dengan unsur pendidikan. Ortu yang terlibat sudah punya niat baik, jangan sampai mereka merasa tidak punya wadah. Perlu ditawarkan kegiatan lain, seperti HTT sebagai hari pendidikan media untuk ortu dana anak. Selain itu kegiatan ini harus bersifat mengkrucut dan praktis dan perlu disediakan Kidia lebih banyak untuk dibagikan.
  6. Eva (YKBH), ada proses panjang mengapa HTT dianggap perlu untuk dilakukan, salah satunya mengingatkan masyarakat bahwa ada "sesuatu" (dalam konotasi negatif) di TV. Pesan bagaimana mengkritisi TV adalah tugas lanjutan, namun ttp diperlukan satu hari untuk simbol. Mbak Eva juga menyarankan perubahan dlm HTT tahun ini, seperti penjangkauan wilayah masuk perumahan, seperti perempatan Lebak Bulus sebagai salah satu titik pembagian materi kampanye; mengembangkan peranan instistusi pendidikan (kampus); mencari dana dengan menjual gimik; setelah hari H, perlu dilakukan pendekatan berkelanjutan mengenai HTT dalam kegiatan di perumahan, seperti arisan, dll.
  7. Dewi (Paramadina), HTT adalah kerja besar. Sebelum kegiatan dilakukan, perlu dilakukan evaluasi kekuatan dan kelemahan kegiatan yang sama tahun lalu yang dapat digunakan sebagai titik tolak untuk pelaksanaan lanjutan. Yang perlu dilakukan adalah perluasan titik, menggunakan potensi massa masing-masing mitra, sehingga setiap mitra perlu membuat peta mitra-nya masing-masing.
  8. Ibu Zuriaty (GENAP), lebih condong pada isi konfrensi pers, perlu ditampilkan fakta-fakta yang menggugah, khususnya bagi masyarakat menengah bawah.
  9. Warsa (YPMA)-aksi damai dan sosialisasi tetap harus dilakukan ditunjang dengan kegiatan di Monas, karena hal ini diapresiasi dengan baik oleh masyarakat. Untuk memperluas jaringan, perlu diadakan kerjasama dengan pihak sekolah, dengan meminta mereka mengadakan acara di sekolah masing-masing. Karena pendekatan ke RT/RW biasanya sulit dilakukan.
  10. Ibu Chamsani (GENAP), menyarankan untuk dibuat Kidia dalam format yang lebih terjangkau bagi masyarakat menengah-bawah.
  11. Bpk. Sapto (Koran Anak Berani)-mendukung kegiatan ini karena sesuai dengan visi-misi. Bpk. Guntarto (YPMA) menyatakan bahwa hal yang kemungkinan besar dapat dibantu oleh Koran Anak Berani adalah jalur publikasi terkait dengan HTT 2008 ini.
  12. Menanggapi usulan mengenai memasukkan muatan pendidikan dalam kegiatan alternatif HTT, Bpk. Guntarto (YPMA) menganggap bahwa ini adalah kerja panjang yang terus berkelanjutan sepanjang tahun setelah event HTT diselenggarakan. YPMA telah mencoba membantu ortu yang membutuhkan bantuan dalam memandu anak untuk cerdas mengkonsumsi media melaui Kidia yang terbit 2 bulan sekali (mulai tahun 2008). Terkait dengan HTT 2008 ini, YPMA akan menambah jumlah materi kampanye, namun diharapkan pola distribusi tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Oleh karenanya diharapkan bantuan dari mitra-mitra yang memiliki cabang dan jaringan di luar daerha, seperti Wanita Islam, Salimah, Aisyiyah, dll.

III. NEXT STEP
Rapat kedua akan dilakukan pada:
Hari/tanggal: Jumat, 18 April 2008
Tempat  : BK3S, Jl. Tanjung No. 8, Jakarta Pusat
Waktu  : 14.00-16.00 WIB
Agenda  : Pembagian tugas pelaksanaan HTT 2008

(IU/YPMA)
 
 
Not Rated!
 
Komentar Terkini (2 komentar)
  • b0cah, Sabtu, 26 April 2008 14:19:55
    mohon ijin untuk memuat rencana HTV ini, atau barangkali ada hal terkait lain yang bisa kami muat...
  • Burhanuddin, Kamis, 10 April 2008 17:24:41
    Bagaimana caranya agar kami di Padang bisa menyelenggarakan Hari Tanpa TV seperti daerah2 lainnya?