EXECUTIVE SUMMARY
RISET AUDIENS SINETRON REMAJA
Oleh Bandung School of Communication Studies dan
Yayasan Pengembangan Media Anak
Bicara aspek konsumsi, maka pertanyaan yang mesti dilontarkan adalah siapakah penonton sinetron Indonesia? Siapakah yang mengonsumsi sinetron-sinetron remaja, dan bagaimana persepsi serta pemaknaan mereka terhadap sinetron remaja Indonesia?
Data rating memperlihatkan, sinetron remaja menduduki posisi penting sebagai sumber pemasukan stasiun televisi. Rating yang peringkatnya tinggi merupakan indikator banyaknya penonton yang menyaksikan sinetron tersebut. Namun, tentu tidak bisa dipastikan siapakah yang tengah menonton saat itu. Apakah memang sang remaja, atau orangtua, atau bahkan adiknya. Sesuai dengan pangsa pasarnya, maka sinetron remaja membidik penonton remaja. Namun, sinetron remaja juga ternyata banyak ditonton oleh orangtua, terutama ketika ditayangkan pada prime time di mana anggota keluarga tengah berkumpul dan banyak mengerjakan aktivitasnya ketika itu di depan televisi. Tidak heran jika komentar-komentar tentang sinetron remaja juga banyak bermunculan dari kalangan ini.
Guna memberikan perspektif yang lebih mendalam mengenai bagaimana sinetron-sinetron remaja dipersepsi dan dimaknai oleh penonton remajanya, YPMA dan Bandung School of Communication Studies (BASCOMMS) melakukan penelitian bersama yang berfokus pada audience reception analysis (Desember 2007-Februari 2008). Dengan melibatkan partisipan yang berasal dari kelompok pelajar SMP dan SMA (putera-puteri), dilakukan mini focus group discussion untuk melacak pemaknaan penonton sinetron remaja terhadap tayangan sinetron semacam itu. Hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tanggapan terhadap Sinetron Remaja Indonesia
No. | Subjek | Deskripsi | |
Pelajar SMP | Pelajar SMU | ||
1 | Selera dominan | Segala macam sinetron. Mulai dari sinetron remaja seperti "Cahaya", "Azizah", "Cinderella", sampai pada sinetron dewasa seperti "Suami-Suami Takut Istri". Tidak ada perbedaan selera antara kelompok partisipan laki-laki dan perempuan. | Sinetron remaja seperti "Intan", "Cinderella", "Cinta Fitri", "Virgin the Series", sinetron-sinetron yang diangkat dari reality show atau program audisi seperti serial "Idola". Ada perbedaan selera antara kelompok partisipan laki-laki dan perempuan, dalam menonton serial komedi tengah malam (lebih disukai laki-laki). |
2 | Tema dominan | Percintaan remaja | Percintaan, perebutan warisan, konflik keluarga. |
3 | Tanggapan | Sinetron itu seru, asyik, menghibur. Sinetron Indonesia belum ideal. Pemainnya itu-itu saja. | Lumayan menghibur. Tapi belum ideal, karena terlalu ‘maksa'. |
4 | Modus menonton | Menghilangkan stres. Mengisi waktu luang. Mendapatkan bahan obrolan. Mencari hiburan. | Hiburan. Kadang dijadikan contoh pelajaran oleh guru. |
5 | Fungsi sosial | Ada fungsi sosial, yaitu sebagai topik obrolan. Di dalam keluarga, menjadi tontonan wajib yang menyatukan keluarga. | Ada fungsi sosial, untuk dibincangkan bersama teman. Tidak menjadi tontonan wajib keluarga. |
6 | Fungsi realitas | Riil: bullying di sekolah Tidak riil: cinta-cintaan yang diperpanjang berepisode-episode.
| Riil: konflik keluarga, perjuangan hidup. |
7 | Fungsi moral | Sama saja porsinya. Ada yang mengajarkan moral baik seperti tidak boleh menjahati teman, harus rajin beribadah. Ada juga yang mengajarkan moral tidak baik seperti tidak hormat pada orangtua dan pembantu, balas dendam, pakaian yang tidak menutup aurat. | Lebih banyak moral negatif. Tapi ybs tidak bermasalah karena merasa sudah bisa menyaring efek negatifnya. Moral positif semisal mengajarkan kerja keras untuk meraih prestasi. Moral negatif misalnya kekejaman dan kekerasan dalam relasi orangtua-anak pungut. |
8 | Fungsi mediasi | Ada mediasi dari orangtua dalam bentuk co-viewing. Sesekali mediasi restriktif tapi hanya kalau ada adik kecil yang ikut menonton. Selera anak didahulukan. | Relatif tanpa mediasi dari orangtua, tapi ybs sudah melakukan mediasi restriktif pada anggota keluarga yang lebih muda. Selera orangtua, khususnya ibu, didahulukan. |
9 | Standar kualitas (sesuai urutan) | Aktor/aktris pendukung, jalan cerita, lagu tema dari band yang sudah beken. | Jalan cerita, kemasan cerita, aktor/aktris pendukung. |
10 | Sinetron ideal | Yang memberi pendidikan baik bagi remaja, tapi tidak menggurui. Harus yang seru. | Memberi alternatif cerita, tidak seputar tema yang sama. Kurangi menjiplak sinetron lain. |
Menarik mencermati ragam tanggapan yang diberikan oleh 16 (enambelas) remaja yang dilibatkan dalam mini FGD ini. Beberapa hal yang dapat disimpulkan berdasarkan dari komparasi tanggapan setiap kelompok adalah sbb.
a. Selera
Tentang selera, terdapat perbedaan selera antara kelompok pelajar SMP dan SMA, juga antara kelompok laki-laki dan perempuan dalam kelas usia atau tingkat pendidikan yang sama. Kelompok pelajar SMP menonton nyaris segala macam sinetron yang ditampilkan di televisi, tanpa menimbang jam tayang atau tipe pasar yang dibidik oleh sinetron tersebut. Pelajar SMP puteri mengaku memfavoritkan serial komedi situasi "Suami-Suami Takut Istri" dengan alasan "... bodor, seru, rame. Suka ngeliat bapak-bapak panik sama ibu yang galak" (Ulfa, 14 tahun). Pelajar SMP putera, di luar dugaan, ternyata juga memfavoritkan sinetron-sinetron seperti "Azizah" atau "Soleha" karena "... bintang filmnya Alyssa, atau Marshanda, dan ceritanya sedih sekali" (Aga, 14 tahun).
Di lingkungan pelajar SMU, pilihan terhadap sinetron lebih selektif. Selera tampak mulai terbentuk. Yang menyukai sinetron melodramatik akan cenderung menonton terus sinetron semacam itu. Yang menyukai sinetron bertema horor-supranatural akan memilih menontonnya dan mengesampingkan yang lain. Yang menyukai sinetron hasil reality show atau audition contest akan mengejar terus sinetron yang dibintangi oleh bintang-bintang audisi. Di luar dugaan, sinetron melodramatik ternyata difavoritkan juga oleh kelompok pelajar SMA laki-laki. Sinetron jenis komedi situasi ‘malam' yang mengeksploitasi guyonan dan gesture seks tidak disukai oleh pelajar perempuan karena dianggap mengeksploitasi gender mereka. "Risih!" (Nadia, 17 tahun). Bagi remaja laki-laki, tidak masalah karena toh jalan ceritanya sendiri "...cukup lucu deh" (Yoga, 17 tahun).
b. Tema
Untuk tema, pendapat pelajar SMP dan SMA pada umumnya sama. Tema sinetron remaja kita dinilai mengeksploitasi percintaan. Tapi, berbeda dengan kelompok pelajar SMP, kelompok pelajar SMA bisa mengidentifikasi ragam tema lain yang ditampilkan dalam sinetron remaja, seperti konflik keluarga, perjuangan hidup, dan lain-lain.
c. Tanggapan (alasan menonton)
Sebagian besar pelajar SMP menonton sinetron karena ‘seru'. Sedangkan pelajar SMA, karena sudah terbentuk seleranya, menonton sinetron karena memang ingin menghibur diri. Faktor ‘ asal seru' ini perlu diwaspadai pada penonton SMP. Mereka cenderung lebih terhibur oleh sensasi permukaan. Dalam fgd, ketika dieksplorasi, pelajar SMP cenderung tidak bisa menceritakan atau mendeskripsikan adegan yang dianggapnya seru itu. Ini berbeda dengan pelajar SMA yang bisa mengidentifikasi dan mendeskripsikan dengan baik sinetron-sinetron yang berkesan bagi dirinya.
d. Modus Menonton
Modus menonton sinetron bermacam-macam. Tapi di kalangan pelajar SMP, yang paling terlihat adalah karena mereka tidak punya kegiatan sampingan di samping belajar dan beraktivitas di sekolah, sehingga mengisi waktu luang di rumah dengan menonton sinetron. Ada tayang mengaku mulai menonton setelah maghrib hingga malam hari pukul 21-an. Ada juga yang mengaku menonton sejak pukul 14 hingga malam hari. Belajar menjadi kegiatan sampingan yang dilakukan di depan televisi. Belajar pun disempitkan dalam kerangka "mengerjakan pe-er atau tugas sekolah."
Pelajar SMA tampaknya lebih banyak punya kegiatan di luar sekolah. Ekskul, mengikuti bimbingan belajar, nge-band, sekadar kongkow-kongkow dengan teman sudah cukup menyita waktu sehingga mereka tidak terlalu banyak menonton sinetron. Yang menarik, seorang pelajar SMA mengaku kalau gurunya kerap menjadikan sinetron sebagai bagian dari pembelajaran. Misalnya, menjalankan role playing di mana pelajar dihadapkan pada situasi atau dilema yang sama dengan tokoh sinetron, lalu mereka diminta mendiskusikan jalan keluarnya. Karena itu, guru biasanya janjian dulu dengan siswa untuk menonton sinetron tersebut di jam-jam tertentu seminggu sebelum materi dibahas dalam kelas.
e. Fungsi Sosial Sinetron
Menonton televisi, menurut Kris Budiman (2001) bukanlah aktivitas soliter. Menonton televisi-sebagaimana dilansir para peneliti seperti Michel deCerteau dan Pertti Alasuttaari yang berfokus pada riset audiens-punya fungsi sosial. Dalam menonton sinetron remaja, fungsi sosial yang tampil di kalangan pelajar SMP adalah menjadikan sinetron sebagai topik obrolan bersama di kalangan teman-teman sekolah atau tetangganya.
Menariknya, pelajar SMP pilih-pilih teman dalam membincangkan sinetron. Perempuan pada umumnya berbincang dengan sesama perempuan, demikian juga laki-laki, biar pun sinetron yang diobrolkan judul dan episodenya sama. Ini berbeda dengan pelajar SMA yang mengaku lebih cair membincangkan sinetron. "Kami ngobrol dengan siapa saja di kelas, bisa sampai 20-an. Rame, ya laki-laki, ya perempuan," tutur ... (18 tahun).
f. Persepsi Realitas
Berkenaan dengan realitas, pelajar SMP ternyata lebih meyakini bahwa sinetron lebih banyak menjalankan fungsi sebagai a mirror of reality-cermin kehidupan nyata. Kehidupan sekolah dalam sinetron yang diwarnai dengan bullying, misalnya, sama saja dengan yang terjadi di sekolah-sekolah. Baik adegannya, sumber masalahnya, mau pun pelakunya yang didominasi oleh perempuan! Walau menyepakati bahwa apa yang disajikan sinetron juga terjadi di tengah masyarakat, pelajar SMA cenderung beranggapan bahwa yang memang riil adalah seputar konflik keluarga, bukan masalah cinta-cintaan lagi. Sinetron bagaimanapun dinilai terlalu berlebihan mengeksploitasi permasalahan cinta (untuk pelajar SMP) dan karakter (SMA).
g. Moral Sinetron Remaja
Dalam hal moral, sinetron mengandung kedua-duanya. Ada moral positif, seperti setia kawan, sabar dan tabah menghadapi cobaan. Tetapi, ada pula hal-hal negatif seperti manja, konsumtif, tidak menghormati orang tua (termasuk guru, pembantu, dll), dan berpakaian tidak sopan, terutama karakter artis perempuan. Bicara soal komposisinya, sinetron remaja diakui lebih banyak menampilkan contoh negatif.
h. Mediasi
Untuk aspek mediasi, kelompok SMP masih mendapatkan mediasi-walau terbatas-dari orangtua masing-masing. Yang paling sering diterima adalah mediasi restriktif. Orangtua melarang anak menirukan adegan atau perilaku tertentu dalam sinetron. Pola menonton lebih banyak coviewing. Tentu mediasi hanya dimungkinkan bila menonton dilakukan bersama-sama.
Kelompok SMA sudah tidak menerima mediasi lagi, paling-paling pembatasan jam menonton untuk pelajar kelas duabelas yang akan menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN). Itu pun tidak berlaku pada salah satu pelajar, berhubung ia bisa meyakinkan orangtuanya bahwa dengan belajar di depan televisi, atau setidaknya mendengarkan bebunyian dari televisi, ia tidak akan cepat bosan dan-ngakunya-lebih bisa berkonsentrasi menghadapi buku teks.
h. Kualitas Sinetron Remaja
Bicara mengenai kualitas, sinetron kita sama sekali belum ideal. Pelajar SMP mengeluhkan komposisi pemain yang itu-itu saja. "Baru selesai Intan, nonton Cahaya, eh pemainnya sama. Naysilla Mirdad pasangannya Dude Herlino, ada Meriam Belina, karakternya juga sama saja," keluh Aga. Kelompok pelajar SMA lebih kritis. Selain mengeluhkan tema yang tidak berkembang, mereka juga mengeluhkan masalah jiplakan-sinetron kita lebih banyak menjiplak sinetron asing yang mereka tonton sampai tamat! Faktor pemain bagi pelajar SMP memang agaknya sangat penting, sehingga dalam memilih sinetron, mereka akan melihat dulu siapa pemainnya. Sesudah itu, baru dilihat jalan ceritanya. Untuk pelajar SMA, jalan cerita menjadi faktor terpenting di samping waktu penayangannya. Terlepas dari kritik dan keluhan terhadap kualitas sinetron remaja kita, remaja-remaja ini sama-sama optimis bahwa mutu sinetron masih bisa ditingkatkan.
Ihwal ketergantungan dan kekritisan remaja terhadap sinetron
Ketergantungan remaja terhadap sinetron dibangun oleh sejumlah faktor. Faktor intrinsik bersumber dari sinetron itu sendiri, yaitu jalan cerita yang menarik, bintang sinetron yang menjadi idola, alur yang dibuat bersambung sehingga membuat penonton penasaran. Faktor ekstrinsik berasal dari lingkungan sekitar, ketika sinetron (atau menonton televisi) menjadi aktivitas yang tidak soliter, atau dengan kata lain, punya fungsi sosial. Dalam hal ini, sinetron menjadi sarana untuk menyatukan keluarga setelah beraktivitas seharian di luar rumah. Sinetron menjadi bahan obrolan dengan sahabat. Bahkan, dalam kasus Reza, salah satu partisipan dari kelompok SMA laki-laki, diperoleh informasi bahwa Ibu Guru menjadikan sinetron sebagai sarana menyampaikan materi pelajaran. Dalam banyak kasus, sinetron banyak menyita waktu lebih dikarenakan kenyataan bahwa remaja punya banyak waktu luang, tapi tidak punya aktivitas untuk mengisinya (mis. ekskul). Perilaku menonton sinetron, selain berkaitan dengan banyaknya aktivitas luar, juga berkaitan dengan hobi masing-masing partisipan. Seperti diungkapkan oleh salah satu partisipan, hobinya menjelajah alam menjadi alasannya memfavoritkan program-program alam bebas seperti "Jejak Petualang".
Penelitian ini juga mendapati remaja-remaja yang bersikap kritis terhadap sinetron. Mereka tidak sekadar mampu mengingkapkan penilaian positif-negatif terhadap sinetron remaja. Tetapi, juga mampu mengidentifikasi sisi positif mau pun negatifnya. Bagi siswa-siswa SMA, sisi negatif sinetron menimbulkan kekuatiran akan dampaknya bagi adik-adiknya yang lebih muda, dan lebih labil emosinya. Kendati demikian, perlu didiskusikan lebih lanjut apakah faktor usia berperan dalam perkembangan pemikiran dan kedewasaan menonton sinetron. Tampaknya, lingkungan juga punya andil besar, entah itu lingkungan keluarga melalui mediasi orangtua, mau pun lingkungan pertemanan dan ekskul. Tapi, diicaci atau dipuji, sinetron selalu tak putus-putusnya diobrolkan di mana-mana....
Bandung School of Communication Studies (BASCOMMS) dan
Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) Jakarta
Santi Indra Astuti, Februari 2008

