Workshop Pendidikan Media
Berita
Kamis, 20 Maret 2008 07:17:56
Evaluasi KBM 'Pendidikan Media' di Duren Sawit Jakarta Timur
Kategori: Umum (562 kali dibaca)

Evaluasi Pelaksanaan "Pendidikan Media"
di beberapa sekolah di Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur 

Pada bulan November 2006, Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) melakuan pelatihan guru di Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Pelatihan ini berlangsung 3 hari dan diikuti oleh 24 peserta dari 8 sekolah percontohan.
Berikut adalah informasi yang diperoleh dari beberapa guru yang pernah mengikuti pelatihan tersebut tentang bagaimana mereka menerapkan materi pelatihan di kelasnya masing-masing.

 

No.

Nama/
Sekolah

Keterangan

1.

Purwani
SDN Malaka Sari 05 Pagi

 

 

Praktek:
Ibu Purwani sempat menerapkan pendidikan media selama 1 bulan untuk kelas 2. Pendidikan media disediakan waktu tersendiri, yaitu 30 menit di hari Sabtu.
Respon Siswa:
Anak-anak kurang merespon dengan baik. Permasalahannya, mereka tidak mau menerima statement "film x tidak baik untuk anak-anak" karena anak-anak menyenangi film tersebut.
Hambatan:
Waktu yang tersedia masih kurang. 
Orangtua siswa kebanyakan sibuk sehingga belum bisa diajak bekerjasama dalam pendidikan media ini.
Saran:
Menggunakan Kidia sebagai media pembelajaran untuk dibagikan kepada siswa dan Orangtua siswa.

2.

Ida Attarida
SDN Malaka Sari 05 Pagi

 

 

Praktek:
Ibu Ida mengintegrasikan pendidikan media ke dalam mata pelajaran IPS, kalau Bab-nya sedang sesuai untuk memasukkan pendidikan media.  Ini dilakukan selama kurang lebih 1 semester. Namun belum pernah diadakan evaluasi, baik secara tertulis ataupun dengan bentuk evaluasi lainnya. Para
peserta adalah kelas 4 SD.
Respon Siswa:
Siswa kurang tertarik dengan pembahasan pendidikan media jika tidak disertai gambar-gambar. Siswa akan tertarik jika setiap siswa mendapat Kidia atau gambar peraga, tidak bergiliran seperti yang diterapkan saat itu.
Hambatan:
Kurangnya alat bantu mengajar.
Saran:
- 
YPMA mengadakan pembicaraan terlebih dahulu dengan kepala sekolah dan para guru.
- 
Mengadakan pertemuan dengan para orangtua, mendatangkan pakar, untuk mensosialisasikan perihal pendidikan media. Tujuannya, orangtua bisa diajak kerjasama dalam mempraktekkan apa yang sudah di dapat dari pendidikan media di sekolah.
- Perlu ada pembagian Kidia untuk orangtua dan siswa. 

3.

Masonih
SDN Pulogebang 01 Pagi

 

 

Praktek:
Ibu Masonih mengajar kelas 1. Beliau mengajarkan pendidikan media di waktu senggang, dengan pendekatan ‘belajar sambil bercerita atau bermain'.  Hanya beberapa pertemuan beliau mengajarkan pendidikan media.
Respon Siswa:
Siswa kurang merespon.
Hambatan:
-  
Faktor internal, dari pihak guru (dalam penguasaan materi) dan pihak siswa (mungkin, menurut beliau, karena mereka masih kelas 1).
-  
Tidak ada alat peraga (poster).
Saran:
-  
Bekerjasama dengan orangtua.
-
Menggunakan Panduan Kidia

4.

Siti Warsiyatun
SDN Malaka Jaya 05 Pagi

 

 

Praktek:
Bu Siti mengajar kelas 2 SD. Selama 1 semester setelah pelatihan, beliau mencoba memasukkan materi pendidikan media di sela-sela pelajaran IPS atau kewarganegaraan. Selain itu, beliau juga memajang poster "Menonton TV cukup 2 jam sehari" di kelas.
Respon Siswa:
Respon siswa cukup baik. "Oke-oke aja, namanya juga anak-anak, dikasih apa aja mau," kata Bu Siti. Beliau juga pernah memberika evaluasi pembelajaran, bukan secara tertulis, tapi lisan (tanya jawab). Anak-anak mengerti jika ditanya terkait pendidikan media, misalnya tentang cara menonton TV yang baik. Namun dalam prakteknya, anak-anak masih menonton TV lebih dari 2 jam.
Hambatan:
Kurangnya waktu yang tersedia untuk mengajarkan materi pendidikan media. Apalagi, jam belajar kelas 2 hanya dari pukul 9.30 hingga pukul 12.00. Itupun guru diharuskan menghabiskan materi dalam kurikulum.

Kesan:
- Pelatihan dan dukungan dari YPMA sudah bagus.
-
Kuantitas materi yang diberikan YPMA sudah cukup.
Saran:
Evaluasi pendidikan media memakai pendekatan tanya jawab dengan siswa.
- Berhubung di SD Bu Siti sudah tersedia TV, alangkah baiknya YPMA mendukung dengan menyediakan alat bantu berupa VCD/DVD terkait pendidikan media.

5.

Siti Subariyah
SDN Klender 06 Pagi

 

 

Praktek:
Bu Siti, mengajar pelajaran agama kelas 1, 2, dan 3. Pendidikan media disampaikan di sela-sela memberi pelajaran agama. Materi yang diberikan antara lain tentang memilih tayangan sesuai umur dan batasan menonton TV.
Respon Siswa:
Siswa cukup merespon dengan baik. Umumnya siswa dapat memberi jawaban dengan benar apabila diberi pertanyaan yang berkaitan dengan media. Namun, dalam prakteknya, konsumsi media para siswa masih belum sehat. Kecuali siswa yang memang mendapat pengawasan dari orangtua yang juga memahami masalah interaksi dengan media.
Hambatan:
Alat bantu, berupa televisi, tidak tersedia di sekolah Beliau.
Saran:
Perlu ada kerjasama dengan pihak sekolah untuk pengadaan televisi sebagai sarana pendidikan media.  

6.

Zuhermi
SDN Klender 06 Pagi

 

 

Praktek:
Beliau mencoba mengintegrasikan pendidikan media ke dalam mata pelajaran Pendidikan Lingkungan dan Budaya Jakarta (PLBJ), untuk kelas 2. Penyisipan materi media dilakukan saat ada waktu senggang. Evaluasi pendidikan media dilakukan secara lisan (tanya jawab) dan juga disisipkan dalam evaluasi tertulis pelajaran PLBJ. Contoh pertanyaan tertulisnya: berapa jam maksimal kita menonton TV sehari?
Respon Siswa:
Siswa menanggapi dengan cukup baik. Siswa tertarik dengan alat bantu mengajarnya (gambar-gambar).
Hambatan:
Berbeda dengan Bu Siti yang mengatakan tidak adanya TV merupakan sebuah hambatan, Bu Zuhermi merasa tidak ada hambatan dalam mengajar media.
Saran:
- 
Pendidikan media sangat bagus diberikan sebagai upaya pemantapan pemahaman anak-anak tentang media.
- Dapat diintegrasikan ke pelajaran PLBJ

 

(Isti Prihandini)
 
 
Not Rated!
 
Komentar Terkini (0 komentar)
Belum ada komentar