NOTULASI RAPAT EVALUASI SEMINAR "WAJAH BURAM SINETRON REMAJA"
Tanggal/Waktu : SENIN - 3 Maret 2008/15.00-17.00
Tempat : Ruang Granada, Universitas Paramadina, Jakarta
Peserta : B.Guntarto, Ike Utaminingtyas, Iyay Sriwiyanti (YPMA); Shanti Indra Astuti (UNISBA); Mediana Handayani (UPDMB); AG. Eka Wenats, Dewi Yuri. C, Diah Agung Esfandari, Farid M. Ibrahim (Univ. Paramadina)
Rapat dibuka oleh Bpk. Guntarto dari YPMA Sebagai pengantar, disampaikan bahwa komentar dan saran mengenai pelaksanaan seminar, sebagian sudah diperoleh dari e-mail. Kemudian dipersilakan yang hadir untuk memberikan tanggapannya.
o Bpk. Eka (Paramadina): Idealnya ada pelaku industri yang ikut serta, atau setidaknya perlu ada pertemuan lanjutan khusus mengundang mereka. Selain itu perlu diadakan pula kampanye sosialisasi hasil penelitian ini. Mengusulkan agar tahun ini dicanangkan tahun ‘kritisi sinetron remaja'
o Ibu Diah (Paramadina): Seminar akan lebih menarik bila menghadirkan artis pemain sinetron, serta mengundang remaja yang memang merupakan penonton acara tersebut. Selain itu perlu juga membuat buku ini lebih mudah dibaca, khususnya oleh remaja. Perlu dibuat time framing untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya.
o Mbak Santi (UNISBA): Menganggap ide mengadakan seminar untuk remaja perlu & menarik, namun harus dibuat dalam format yang berbeda. Terkait dengan masalah publikasi, perlu diadakan roadshow di kota-kota selain Jakarta, khususnya oleh rekan-rekan universitas yang ikut berpartisipasi dalam penelitian ini, seperti UNDIP, UNBRAW, UNAIR, dll. Pelaksanaan roadshow tersebut juga terkait dengan komitmen 18 PT, sehingga meningkatkan rasa memiliki terhadap hasil penelitian bersama ini.IMIKI Bandung tertarik untuk membentuk media watch. Liputan media dalam tingkat nasional memang sulit, namun media di daerah cenderung lebih mudah diajak bicara. Sosialisasi roadshow bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk membuat seminar yang terkait dengan ajakan untuk belajar memproduksi acara yang ramah, bisa juga lebih ditekankan pada pembelajaran melek medianya.
o Mbak Dewi (Paramadina): Tiga hal penting yang harus dilakukan antara lain pendekatan menuju public policy; pendekatan kepada industri sinetron; dan pendekatan ke audiens (dalam hal ini remaja)
o Mbak Mediana (Moestopo): Kegiatan Roadshow ini harus tetap didampingi dengan penelitian terkait denganpendidikan media atau dampak yang tetap dikerjakan sendiri oleh koalisi 18 PT. Namun penelitian mengenai dampak media diarasa akan menimbulkan banyak kritik dan pertanyaan. Sebenarnya analisis isi cukup untuk melihat signifikansi pengaruh pada anak/remaja.Mengembangkan data-data sekunder terkait dengan penelitian kemarin
o Bpk. Guntartomenyarankan agar hasil penelitian ini dikemas dan diberikan secara langsung kepada pihak industri, karena data seperti ini tidak pernah ada sebelumnya. Sulit bagi IMIKI untuk menjalankan media watch karena harus dijalankan secara terus-menerus, namun ada usulan untuk meneruskan penelitian yang dilakukan oleh 18 PT dalam format yang sederhana seperti: meneliti produk apa saja yang beriklan di acara yang ‘paling buruk' atau ‘paling banyak kekerasannya' dsb. Roadshow adalah ide yang menarik karena tidak terlalu sulit dilakukan. Selain itu UNICEF juga sepertinya tertarik untuk mendukung kegiatan ini. UNDIP berencana menggunakan data temuan untuk melakukan kegiatan pendidikan media sebagai bagian dari pengabdian masyarakat. Liputan media yang dirasa sangat kurang, hanya ada di Kompas Cyber Media. Hasil penelitian ini juga dapat disosialisasikan dalam kegiatan Hari Tanpa TV 2008. o Bpk. Farid (Paramadina): berencana membuat artikel di media mengenai hasil penelitian sinetron remaja dan diharapkan ada penelitian lanjutan untuk orang/institusi yang belum bergabung dalam penelitian sebelumnya.
Keputusan rapat:
1. Tim inti (Mbak Santi, Mbak Hendri, dan Mbak Mediana) akan melengkapi data sekunder, dibantu oleh tim YPMA.
2. Sangat disarankan kepada anggota tim peneliti untuk fokus pada isu tertentu untuk diangkat menjadi bagian dari tulisan buku tentang 'Potret Sinetron Remaja'.
3. Setiap orang yang terlibat dalam kegiatan penelitian ini diharapkan mengambil peranan masing-masing dalam kaitannya dengan sosialisasi ataupun penelitian lanjutan, serta komitmen yang jelas.
4. Disepakati bahwa pertemuan berikutnya akan diadakan di Ruang Granada - Universitas Paramadina, Senin 17 Maret 2008 pukul 14.00-selesai. Agenda rapat: Pembahasan mengenai rencana tindak lanjut yang kongkrit mengenai hasil penelitian; Pembahasan mengenai aspek kelembagaan - termasuk penambahan PT yang ingin bergabung. Undangan untuk semua universitas akan dibuat oleh Universitas Paramadina (ibu Yuni).
Beberapa Komentar mengenai Pelaksanaan
Seminar "POTRET BURAM SINETRON REMAJA"
Paramadina Jakarta, 20 Feb 2008
(Dihimpun dari e-mail hingga akhir Februari 2008)
1. GUNTARTO, YPMA. Saya menilai apa yang disampaikan oleh Mas Slamet tidak nyambung dengan fokus perhatian kita. Andai dia datang tidak telat sehingga bisa mendengar apa yang disampaikan oleh Mbak Santi dan mbak Nina dengan utuh, tentu akan lebih baik. Atau andai dia mau baca materi2 yang saya kirimkan sebelumnya, mestinya - kalau harapan saya tidak berlebihan - dia akan bisa memperkaya temuan kita dan membingkai fenomena yang ada sekarang ini dalam kerangka yang sederhana. Tapi yang jelas dia memang tidak menjiwai atau tidak dapat menemukan 'roh' dari seminar kita kemarin. Saya juga menyesalkan hal ini.
Secara umum, saya melihat seminar berjalan dengan baik. Peserta cukup banyak, waktu agak molor tapi masih acceptable. Ruangan dan perlengkapannya lebih dari cukup. Hanya ketika penayangan video, sayang sekali tidak bisa utuh. Mestinya panjang video itu 8 menit lebih dikit, namun sepertinya yang bisa ditayangkan dengan baik kok tidak sampai separonya ya?
Dari paparan kemarin, saya melihat bahwa yang disampaikan oleh Mbak Santi terlalu terfokus pada hasil temuan penelitian. Andai kita nenambahkan data sekunder seperti misalnya: sinetron apa yang paling banyak kekerasannya, sinetron yang paling banyak adegan seks-nya, atau TV mana yang paling banyak menayangkan sinetron remaja yang paling buruk, tinjauan dari PH yang memproduksi, bintang yang paling banyak tampil memerankan peran antagonis, bintang paling banyak memerankan peran-peran protagonis, dsb. Masih banyak sekali data yang bisa kita gali dari penelitian kita.
Dengan kata lain, sebenarnya masih bisa dimunculkan isu-isu yang lebih memiliki greget dan menyentak perhatian banyak orang. Saya kira ini tugas kita bersama untuk memperkaya temuan penelitian agar lebih menarik dan multidimensi. Kemarin saya sempat diskusi dengan Hendri. Saya bilang setiap episode atau judul itu harus menjadi sampel penelitian yang dimasukkan dalam format data untuk diolah dengan SPSS sehingga bisa ditampilkan misalnya sinetron produksi Sinemart apa aja sih? Sinetron poduksi Sinemart yang ditayangkan di SCTV apa aja ya? Tahun 2006? kalau yang 2007? Wah.... sudah kebayang bakal kaya sekali.
Saya berpikir, sepertinya kita perlu mengadakan satu forum lagi yang lebih terbatas untuk menyajikan temuan-temuan yang sudah diperkaya tadi.
2. NINA, Universitas Indonesia. Saya setuju kita bisa mengeksplorasi banyak hal lain dari riset ini. Kita bisa membuatnya sebagai "survei babak 2". Data yang ada bisa diolah oleh tim kecil saja dan kemudian kita bicarakan lagi dalam forum terbatas, dengan mengundang wartawan lagi (note: tak perlu Slamet Raharjo). PR kita memang masih banyak.
Saya sempat diskusi kecil dengan Hendri soal ini. Ada sejumlah keterbatasan dan kelemahan penelitian (akibat keragaman coder yang luar biasa) yang membuat kita harus sangat berhati-hati menyimpulkan sejumlah hal. Inilah yang harus kita bicarakan bersama.
Ada ide lain, yaitu membuat newsletter a la Kidia yang isinya menampilkan hasil penelitian ini.
Di luar dari apa yang disampaikan Mas Gun tentang seminar kemarin, saya ingin mengomentari Koalisi 18 PT. Menurut saya, tim ini hebat. Bekerjasama semacam itu sungguh tidak mudah. Tampaknya semua anggota tim punya visi yang sama, itu yang memudahkan semuanya. Padahal di dalamnya bergabung orang pinter-pinter yang masing2 membawa panji2 universitasnya. (memang ada yang rada "keluar rel" seperti mas Danarko (?) yang menurut saya pertanyaannya di seminar kok agak aneh karena dia kan masuk anggota tim...). Jadi, kesamaan visi koalisi ini adalah modal besar yang bisa terus dijaga untuk terus menghasilkan penelitian2 lain di bidang kajian media entah di bawah koordinasi YPMA atau tidak.
3. KENDAR, UNICEF. Congrats, acara kemarin jalan bagus. Pendapat2 mas Slamet sah-sah saja, tapi untuk forum kemarin, panitia agak 'kecolongan' dong, karena ada narasumber yang pandangannya tidak "in line" dengan semangat diskusinya.
Untung event kemarin bukan untuk media saja. Kita tidak memerlukan semangat yang menumbuhkan paralysis...
Langkah selanjutnya perlu memaparkan hasil kajian ke media. Issue-nya menarik, so, saya yakin bisa diserap oleh media. Mungkin bisa dalam bentuk rountable discussion. Peneliti memaparkan temuan dan metode kajiannya, lalu ada pakar pendidkan dan psikologi, ada orang tua, pendidik, dan anak yang memberi tanggapan. Konsepnya kita bikin seperti one stop shop, dimana rekan2 media bisa mendapatkan info dari semua elemen yg diperlukan untuk sebuah laporan media yg komprehensif.
Moderatornya harus bisa lead discussion agar berbagai suara dari peserta roundtable bisa disampaikan. Pesertanya sih termasuk wartawan nggak usah terlalu banyak, sekitar 30-40 saja. Inimemang bukan konsep seminar.
Kita bisa diskusikan lebih lanjut di telepon atau ketemu langsung mas Gun.
4. HENDRIYANI, Universitas Indonesia. Wuih, setelah baca komentar mbak kendar, mbak nina dan mas gun, jadi semangat untuk bikin acara seperti ini lagi. Kalau 'percobaan' pertama sudah bagus, yang lain bisa punya benchmark yangtinggi.
ide mbak kendar menarik untuk dijalankan karena kita memang butuh bantuan media untuk diseminasi hasil penelitian. konsep 'one stop shop' juga cocok dengan kebutuhan mereka.
Tentang Slamet Rahardjo, saya kok tetap tertarik untuk jawab tantangan yang ia lontarkan ya...
Ia sudah menyanggupi untuk jadi orang yang menghubungkan dengan dunia seni, dan memang para seniman itu juga gelisah dengan kondisi ini. saya tahu banyak teman yang terlibat dengan produksi sinetron merasa bahwa mereka 'melacur' (sorry) demi uangnya semata.
Dalam workshop dengan IKJ Januari lalu, Nan T. Achnes (jadi producer di Pasir Berbisik, The Photograph) cerita betapa sulitnya dapatkan dana untuk biayai produksi proyek 'idealis'. Tapi dia juga cerita bahwa ada peluang dari funding negara Uni Eropa dll, sepanjang isu yang diangkat cocok dengan mereka.
Well, Mbak Nina memang ngasih contoh bahwa kalau pelanggan protes sama koki, koki dong yang harus 'betulin' rasa masakannya karena itu memang tuntutan profesinya. Tapi mungkin bisa bantu sang koki kalau kita bisa kasih contoh "begini loh rasa makanan yang enak dari restoran lain" (apalagi restoran saingan).
Di Jakarta, kita sudah kenal JIFEST, yang nggak perlu terlalu susah payah promosi lagi karenapamornya sudah dikenal orang. mungkin kita bisa mulai dengan "Festifal Film Sehat Anak". :)
5. IWAN HASAN, UNICEF. Mas Gun, Dari segi funding kita bisa laksanakan acara ini dengan menggunakan funding yang ada di UNICEF. Mudah-mudahan ada ekstra. Mungkin untuk efisiensi, kita bisa sekalian laksanakan ini di Surabaya, Semarang atau Yogya di mana kita akan laksanakan media education nanti. boleh ada kegiatan tambahan tapi tentunya kita harus melihat funding yang ada. Nanti kita bicarakan lagi Pak Gun.
6. SANTI, UNISBA Mas Gun, mbak Nina, Hendri, mbak Yuni dan semuanya, terlepas dari performance mas Slamet (kata mbak Novi muka saya kelihatan gemes banget sama doi, hehe), saya mengucapkan alhamdulillah sebanyak-banyaknya, segede-gedenya, terimakasih sebesar-besarnya pada teman-teman semua. Ini kerjaan besar, dan hebat sekali kita bisa menyelesaikannya. Jelas riset ini sangat banyak kekurangan dan keterbatasannya. Bagaimanapun, kita sudah memulai sesuatu yang bisa dijadikan titik tolak untuk melakukan hal-hal yang mudah-mudahan bakal lebih besar lagi.
Sebelum ngomong yang lain-lain, saya ingin kabarkan bahwa teman-teman dari Bandung sangat antusias dan berterimakasih telah dilibatkan dalam penelitian ini. Kami belajar banyak dari masalah-masalah yang terjadi. Kebanyakan adalah masalah teknis dan kurang kuat iman aja buat bagi waktu, hehe... Saya sepakat bahwa visi dan idealisme kita sama, itu pondasi yang sangat penting.
Tim Bandung akan menyeminarkan hasil penelitian ini, lagi cari waktu yang tepat, insya Allah dalam waktu dekat ya. Walau pun saya sempat stres dengan tempo meneliti yang beda-beda (dan pengumpulan data yang tidak tepat waktu), harus saya akui bahwa kerjaan ini bikin kami yang mewakili Bandung jadi kompak. Itu sungguh-sungguh berarti buat kami. Hidup Jatinangor, Tamansari dan Buahbatu! Secara pribadi saya merasa tidak puas dengan performance saya sendiri--geumpeur euy ngomong di depan teman-teman sendiri! Walau pun sudah sempat diskusi dengan mbak Nina, saya ternyata jatuh mental juga ketika menghadapi mas Slamet yang di luar dugaan.
Ini pengalaman yang sangat berharga buat saya. Saya kagum sama mbak Nina yang masih bisa senyum-senyum dan menangkis mas Slamet dengan analogi koki yang keren abis itu. Sementara saya udah nggak tau mesti ngapain lagi, hehe.
Kalau ada usulan menyosialisasikan temuan penelitian ini, yuk ditindaklanjuti saja. Masukan mas Gun itu bagus sekali, kita bikin laporan yang lebih dari sekadar exctv summary tadi. Bagaimana kalau kita mulai dari isu-isu yang dipresentasikan mbak Nina, kita soroti secara spesifik sinetronnya apa dan adegannya macam apa. Buat publik itu akan jauh lebih bermakna, daripada disuguhi angkaper angka aja. Kapan mau kumpul-kumpul lagi?
7. RINI, Paramadina. Ada beberapa nih berkenaan dengan seminar kemarin, Saya harap teman-teman tidak kecewa terlalu lama dan jangan terlalu menyalahi Pak Slamet juga yang tidak satu pandangan dengan kita. Menurutku, komentar dia memang begitulah memang gambaran yang sebenarnya. Memang "mereka", dalam arti para sineas ini memang pingin mitesorang-orang seperti kita, .....kayak mites kutu ?!.
Suara kita memang melawan mainstream. Wajar kalo banyak yang merasa kegerahan. Kalo bukan Pak Slamet pasti ada Pak Slamet-pak Slamet lainnya, sutradara Hanung Baramantyo kemaren juga datang, tapi dia ga mau masuk. Kupikir dia mungkin juga berpikiran sama aja dengan Pak Slamet, pinginmites kita yang pingin kritisi dia.
Sorry banget ya, kukira seminar kemarin bisa jadi lebih seru karena ada yang berseberangan. Pertandingan bisa jadi lebih rame kalo bisa saling bantah bantahan. Sayangnya, kemarin itu kok kegarangan Mbak Nina and M Santi kurang kelihatan ya ?
Moga-moga bukan karena Pak Slamet masih menunjukkan ke"ganteng"an masa lalunya ya..he 7x...
Kemarin juga memang pemutaran sinetronnya kurang nge JRENG !!! Kayak sempalan aja jadinya. Mungkin lain kali ketika menjawab "tantang"an Pak Slamet, bisa langsung dicobakan sebagai salah satu bentuk "akibat" buah simalakama sinetron dengan melibatkan audience yang hadir. Jadi sedikit interaktif dan menarik.
Btw, kita dari pihak peneliti memang harus mengakui bahwa melakukan penelitian bersama itu memang "takes time"! capek dech...Apa lagi harapan pencapaian terlalu tinggi,wah...kalau waktunya mepet, jadi banyak hal yang terlewati. Sejujurnya saya ga puas dengan hasil penelitian kita. Banyak hal yang sebetulnya bisa dieksplorasi.
8. NOVI, UGM. Menyoal seminar yang dilakukan dengan sangat apik di Paramadina hari rabu kemarin (pf buat Yuni cs), menurut saya ada tiga hal yang menarik untuk dikomentari.
Pertama, terkait dengan pelaksanaan seminar Overall, it was a really great seminar! Baik secara teknis penyelenggaraan maupun substansi isi seminar. Santi dan Mbak Nina benar-benar menguasai persoalan sehingga materi yang disampaikan mudah dimengerti peserta seminar yang tidak tahu detil riset. Sebagaimana komentar temen-temen lain, sayangnya, kedatangan Mas Slamet justru malah sedikit mengaburkan tujuan utama seminar untuk ikut mengkritisi sinetron. Posisi mas Slamet sangat tidak jelas karena secara faktual, beliau juga pelaku sinetron dan penggiat film. Mas Slamet seolah lupa bahwa riset ini hanya khusus tentang muatan sinetron dan tidak menyangkut sama sekali dengan kaidah sinematografis yang ada di dalamnya. Sehingga sangat tidak pas kalau penilaian beliau berputar-putar dari penilaian estetika film dan hal-hal yang ada di luar kajian riset ini. Well, meski mas Slamet secara personal memintamaaf ke mas Bobby, wacana tentang tidak perlunya energi untuk ‘membuang sampah yang tidak kita bikin' masih saja muncul di UI Salemba saat beliau memberikan kuliah. Nah, selain analogi koki yang dibantah dengan tegas oleh Mbak Nina, mungkin kita harus sekali lagi menjelaskan ke mas Slamet tentang kajian kita yang memfokuskan pada muatan isi sinetron (bukan sinematografi) serta keterbatasan metode analisis isi yang tidak punya kuasa untuk menguraikan konteks (ini mungkin yang terlupa dijelaskan di forum ke mas Slamet). Terus terang, personally, saya merasa terganggu dengan pernyataan beliau bahwa kita hanya membuang energi dibalik kerja keras temen-temen semua berjibaku menyelesaikan riset ini. So, lupakan sementara mas Slamet dan fokus ke rencana selanjutnya.
Kedua, terkait dengan paska pelaksanaan seminar sebenarnya pekerjaan terberat dari riset ini adalah mensosialisasikan hasilnya yang tak hanya berhenti di seminar. Untuk itu, saya kira perlu kita tentukan dulu prioritas tujuan kita. Saya kira, dalam tataran praktis dan kemungkinan tercapainya tujuan, kita lebih baik memfokuskan diri untuk ‘mencerdaskan penonton' ketimbang ‘mencerdaskan pekerja sinetron atau stasiun televisi' atau bahkan mengajak KPI turut serta dalam gerakan ini. Mas Bobby dan temen-temen di YPMA sangat ahli dalam hal ini. Oleh karena itu, mungkin perlu dibikin beberapa rencana terkait dengan tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Meski saya di Yogya (ngiri nih sama temen-temen yang di Jakarta hehe), Personally, saya akan membantu semaksimal mungkin dengan atau tanpa dukungan dari UGM. Good news, ketika mendengar UNICEF bisa bantu sosialisasi riset ini.Ketiga, terkait dengan evaluasi pelaksanaan riset Nilai lebih dari riset ini adalah kemampuan YPMA untuk menggandeng 18 universitas. Untuk sebuah gerakan, posisi ini sangat menguntungkan kita karena terkesan lebih ‘legitimized'. Akan tetapi menilik kerja yang tidak seimbang di antara universitas satu dengan yang lain saya melihatsetidaknya ada beberapa persoalan seperti komitmen, manajemen dan space. Terkait dengan komitment, memang harus disadari bahwa riset ini mempunyai kelemahan. kemandirian yang disarankan dimiliki oleh masing-masing universitas tidak bisa berlaku secara maksimal baik kemandirian dalam mengolah riset secara muatan isi maupun kemandirian secara dukungan biaya. Karena tidak semua peneliti mendapatkan dukungan maksimal dalam melaksanakan riset ini dari masing-masing universitas. Kemudian terkait dengan manajemen, YPMA sebagai inisiator dan lembaga yang bekerja sama dengan masing-masing universitas mungkin harus menegaskan lagi ke masing-masing universitas untuk menanyakan kemungkinan tahapan berikutnya. Karena dalam kasus jurusan saya saja, ketua jurusan sudah berpikir program ini selesai saat seminar selesai. Nah mungkin untuk di masa depan perlu ditunjuk staf di YPMA yang khusus menjadi agen dan sekaligus debt collector (hehe) untuk berhubungan dengan masing-masing universitas sehingga kejadian‘Danarka-atmajaya' bisa dieliminir. Ketiga, persoalan space yang terkait dengan dominasi sebagian besar peneliti yang ada di Jakarta (plus Bandung khusus untuk Santi yang 'nyambi jadi kenek' Cipaganti hehe). ini menyulitkan bagi peneliti yang berada di luar Jakarta selain kurang mempunyai saluran buat berdiskusi dengan teman lain juga mempunyai kendala finansial untuk selalu datang di rapat yang selalu diadakan di Jakarta (bayangkan harga tiket pesawat kami hehe). Kasus saya sih agak mudah karena saya punya riwayat histories romantik dengan Santi, UI dan Jakarta sehingga selalu berupaya datang. Selain itu perlu juga dicatat bahwa dalam prakteknya, komitmen personal peneliti terkadang berbeda dengan komitmen jurusan atau universitas. Pernik-pernik ini mungkin kurang muncul karena setahu saya belum pernah ada rapat yang lengkap dihadiri 18 universitas selain juga rapat yang waktunya sangat singkat. Anyway, ini bener-bener kerja yang luar biasa, sehingga kelemahan riset ini tertutupi oleh kerja keras tim inti dan semoga jadi pembelajaran buat kita semua di masa depan.

