POTRET BURAM
SINETRON REMAJA INDONESIA
Executive Summary
Selalu seru bicara tentang sinetron di televisi. Lebih-lebih bicara tentang sinetron remaja, yang sering menjadi primadona di jam-jam tayang utama beberapa stasiun televisi besar.
Jumlah sinetron remaja berlimpah. Berdasarkan jadwal televisi mingguan yang terdapat dalam tabloid Bintang Indonesia, terdapat lebih dari 200 judul sinetron remaja yang ditayangkan sepanjang tahun 2007. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, sepanjang tahun 2006 televisi bersiaran nasional di Indonesia telah menayangkan sebanyak kurang lebih 178 judul sinetron remaja yang terdiri dari 83 sinetron berseri dan 95 sinetron serial pendek atau sekali tayang, dengan total 3.641 episode atau setara dengan lebih kurang 4.019 jam. Sambutan penonton terhadap acara semacam ini tecermin dari peringkat rating yang dengan stabil bertahan di kisaran Top 20.
Namun, cerita tentang sinetron tak selamanya manis. Biarpun bintang-bintangnya diidolakan di sana-sini, sinetron remaja menuai banyak keluhan. Mulai dari tema dan alur yang menjiplak sinetron lain -terutama sinetron laris produk luar negeri, kualitas yang digarap asal-asalan dengan logika monokultur untuk mengejar produksi massal, sampai -yang terbanyak- isi sinetron yang jauh dari harapan dapat memberikan hiburan yang sehat untuk penontonnya. Kekerasan, seks, dan mistis seolah menjadi unsur yang tak pernah lepas dari sinetron remaja kita. Belum lagi fenomena-fenomena lain yang tak kalah memprihatinkan, seperti penggambaran remaja atau anak-anak yang cepat dewasa, juga penyimpangan nilai-nilai dan etos menjadi budaya serba instan dan kapitalistik.
Guna menjawab pertanyaan seputar isi sinetron remaja Indonesia, Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA-Kidia) dan 18 perguruan tinggi di Indonesia bersama-sama menyoroti isi sinetron remaja Indonesia yang ditayangkan pada tahun 2006 dan 2007. Dengan metode analisis isi, penelitian "Potret Sinetron Remaja Indonesia" dilakukan terhadap 92 judul sinetron, dengan 362 episode sepanjang 464 jam. Konsep yang dieksplorasi adalah kekerasan, mistik, seks, serta moralitas.
Ke-18 perguruan tinggi tersebut adalah: IISIP Jakarta, Stikom LSPR Jakarta, STIKOM Bandung, Unair Surabaya, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Unbraw Malang, Undip Semarang, UGM Yogyakarta, Universitas Indonesia, Unisba Bandung, Universitas Kristen Indonesia, Universitas Mercu Buana, Unpad Bandung, Universitas Paramadina, Universitas Persada Indonesia - YAI, Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Universitas Terbuka Jakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
RINGKASAN TEMUAN PENELITIAN
A. Anatomi Kekerasan dalam Sinetron Remaja Indonesia
Sinetron remaja tak lepas dari kekerasan, dan analisis isi terhadap adegan kekerasan dalam sinetron remaja memperlihatkan temuan sebagai berikut:
Tabel 1
Keterangan: Sinetron serial adalah sinetron dengan jumlah episode yang banyak, sedangkan sinetron lepas adalah sinetron yang hanya terdiri dari beberapa episode (2-4 episode) atau hanya satu episode dengan masa putar sekitar 2 jam.
Kekerasan psikologis tampak menonjol dalam setiap sinetron, dengan rata-rata mencapai persentase di atas 40%. Ini disusul dengan kekerasan fisik. Bentuk kekerasan lain yang cukup sering muncul adalah kekerasan relasional dan kekerasan fungsional. Kekerasan psikologis tecermin lewat perilaku mengancam, memaki-maki, mengejek, melecehkan, memarahi, memelototi, dan membentak. Kekerasan fisik memperlihatkan kontak fisik antara pelaku dan korban, mulai dari yang sifatnya ‘ringan' seperti menoyor dan mencubit, sampai yang sifatnya ‘berat' seperti memukuli dan mengeroyok. Kekerasan fisik bisa melibatkan senjata (seperti menembak dan menikam) atau dilakukan dengan tangan kosong (meninju, menjambak, menampar).
Ekspresi kekerasan verbal (56%) mendominasi adegan kekerasan dalam sinetron remaja. Sedangkan ekspresi non verbal dan yang lain atau gabungan sama banyaknya. Ekspresi verbal muncul dari kata-kata atau lisan dalam adegan kekerasan. Sedangkan ekspresi non verbal terlihat dari gesture (perilaku), facial (ekspresi wajah), dan paralinguistik (volume suara yang meninggi, ucapan yang terputus-putus karena marah, dll). Dominannya ekspresi kekerasan verbal sejalan dengan hasil temuan adegan kekerasan yang lebih banyak berbentuk kekerasan psikologis.
Adegan kekerasan juga dibagi sesuai dengan motifnya, disengaja atau tidak disengaja. Inilah hasil bedah motif kekerasan dalam sinetron remaja.
Gambar 2
Frekuensi Motif Kekerasan Sinetron Remaja 2006-2007
Motif kekerasan yang disengaja (90%) jumlahnya jauh melebihi kekerasan yang tidak dilandasi motif. Motif kekerasan yang disengaja menunjukkan intensitas adegan kekerasan yang lebih tinggi, karena kekerasan yang ditampilkan bukan merupakan efek, melainkan direncanakan terlebih dahulu.
Siapakah korban dan pelaku adegan kekerasan dalam sinetron kita?
Penelitian ini memperlihatkan, pelaku adegan kekerasan lebih banyak laki-laki (52%) dibanding perempuan (46%). Namun, bedanya tidak terlalu signifikan. Perempuan, dalam banyak adegan, juga digambarkan banyak melakukan kekerasan, terutama kekerasan psikologis. Sementara, korban kekerasan antara laki-laki dan perempuan seimbang, sama-sama mencapai 50%.
Untuk melihat lebih jelas lagi bentuk kekerasan dan pelaku atau korbannya yang paling dominan, perhatikan tabel berikut ini yang menggambarkan gabungan adegan kekerasan dalam sinetron remaja serial maupun lepas sepanjang 2006-2007.
Tabel 2
Pelaku kekerasan nyaris seluruhnya didominasi oleh laki-laki; kecuali, kekerasan relasional yang didominasi oleh peran pembantu perempuan (34%). Kekerasan relasional memperlihatkan bentuk kekerasan yang mengakibatkan rusaknya relasi atau hubungan antarkarakter atau antarkomunitas, seperti menggunjingkan, memfitnah, menyebarkan desas-desus. Data ini menjadi menarik karena perempuanlah yang digambarkan sebagai pelaku karakter ini.
Berbicara tentang siapa korbannya, laki-laki ternyata juga menjadi korban dengan frekuensi terbanyak. Korban kekerasan fisik terbanyak justru pemeran pembantu laki-laki (32%).
Demikian juga kekerasan finansial yang mengambil korban terbanyak pemeran utama laki-laki (36%). Kekerasan finansial terlihat dari adegan mencuri uang korban, menahan atau tidak memberi pemenuhan kebutuhan finansial korban, mengendalikan dan mengawasi pengeluaran uang sampai sekecil-kecilnya. Perempuan menjadi korban terbanyak dalam adegan kekerasan psikologis (39%), kekerasan spiritual (33%), kekerasan relasional (33%), dan kekerasan seksual (35%). Terbanyak, perempuan menjadi korban kekerasan fungsional (41%), di mana karakter perempuan dipaksa melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan, dihalangi atau dihambat aktivitasnya, dipaksa hadir tanpa dikehendaki, dibantu tanpa dikehendaki, dan lain-lain.
Dalam meninjau motif kekerasan apabila dihubungkan dengan variabel gender, maka hasilnya terlihat dalam tabel berikut ini.
Tabel 3
Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam melakukan kekerasan disengaja atau tanpa motif. Terbanyak, kekerasan tak disengaja dilakukan oleh pemeran utama perempuan (32.38%). Misalnya, membela diri. Sedangkan motif kekerasan disengaja paling banyak dilakukan oleh pemeran pembantu laki-laki (26.59%).
Apa yang bisa disimpulkan dari data ini? Stereotipe bahwa perempuanlah yang senantiasa menjadi korban kekerasan, pupus sudah. Stereotipe bahwa lelaki-ah yang selalu menjadi pihak pelaku kekerasan, juga pupus. Baik laki-laki maupun perempuan digambarkan punya peran yang sama, baik sebagai pelaku maupun korban.
Penelitian ini juga mencoba melihat bagaimana adegan kekerasan dihubungkan dengan karakter usia pemerannya: anak-anak, remaja, dan dewasa. Hasilnya, frekuensi adegan kekerasan yang dilakukan oleh remaja jumlahnya cukup tinggi. Data lengkapnya dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Hal lain yang patut menjadi perhatian adalah tingginya persentase kekerasan seksual yang dilakukan oleh remaja (68%), kekerasan relasional (62.99%), juga kekerasan spiritual (90.91%). Tetapi, bentuk kekerasan spiritual sebenarnya tidak banyak dibandingkan dengan bentuk kekerasan lainnya, karena tema-tema semacam ini tidak sebanyak sinetron bertema percintaan.
Tabel 5
Dilihat dari aspek motif kekerasan, remaja mendominasi kekerasan yang disengaja (52.08%) maupun kekerasan yang tidak disengaja (58.36%).
Kekerasan menjadi bumbu dalam sinetron untuk memunculkan kontras dan konflik. Ini sah-sah saja. Tetapi, ketika kekerasan menjadi porsi utama dalam plot dan adegan yang disajikan dalam sinetron remaja, mau dibawa kemana penonton kita?
B. Tragedi Mistik dan Supranatural dalam Sinetron Remaja
Sinetron remaja yang mengandung adegan mistik umumnya merupakan sinetron-sinetron bertema horor dan fantasi. "Di Sini Ada Setan", misalnya, merupakan contoh sinetron horor yang bukan hanya sarat dengan adegan kekerasan, tetapi juga penuh dengan adegan mistik/supranatural. "Sissy si Putri Duyung" atau "Dan", merupakan contoh sinetron fantasi yang memperlihatkan adegan-adegan yang mengandung unsur mistik/supranatural. Misalnya, manusia bercakap-cakap dengan ikan mas, puteri duyung yang berubah wujud menjadi manusia, dan lain-lain. Belakangan, adegan mistik/supranatural masuk ke dalam sinetron bertema religius seperti "Kodrat", yang memperlihatkan bagaimana kekuatan gaib dalam sebentuk batu hijau mengubah seseorang menjadi jahat.
Walaupun sekarang tidak banyak sinetron remaja yang mengeksplorasi tema-tema semacam ini, namun tema fantasi senantiasa muncul, walaupun frekuensinya sedikit. Sinetron "Legenda" dan "12 Peri Jahat" misalnya, saat ini merupakan sinetron beradegan mistik yang muncul di layar kaca kita. Bagaimana gambaran adegan mistik dalam sinetron remaja kita? Data lengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Adegan mistik yang muncul dalam sinetron kita didominasi dengan visualisasi (76%), yaitu penampakan makhluk mistik. Penampakan ini tidak selalu hantu, tetapi bisa juga berbentuk peri, puteri duyung, bidadari, dan lain-lain. Bicara soal karakter yang terlibat dalam adegan mistik, inilah data yang ditemukan.
Ada empat kategori karakter dalam adegan mistik yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu pemuka agama, dukun/peramal/medium, makhluk gaib, serta manusia. Ternyata, makhluk gaib merupakan karakter yang paling sering dimunculkan (55%). Pemuka agama hanya muncul dalam beberapa adegan sehingga angkanya tidak cukup signifikan untuk dimasukkan dalam grafik pie ini. Temuan tingginya pemunculan makhluk gaib paralel dengan temuan adegan mistik dalam sinetron remaja, yang didominasi oleh visualisasi. Manusia yang terlibat dalam adegan mistik (43%) lazimnya muncul dalam adegan-adegan yang memperlihatkan interaksi antara manusia dengan makhluk mistik, entah itu berbentuk perseteruan atau pun aliansi/persekongkolan. Bila dihubungkan dengan dimensi gender, maka data yang terlihat menjadi seperti tabel berikut ini.
Tabel 6
Dari aspek pelaku, makhluk gaib sebagai karakter mistik yang paling banyak muncul dalam adegan visualisasi diidentifikasi berjenis kelamin perempuan (38.71%). Wujudnya kuntilanak, pocong, arwah penasaran, dll. Tabel juga menunjukkan, dalam hal interaksi, laki-lakilah yang paling dominan (42.20%). Artinya, laki-laki ditampilkan sebagai pihak yang banyak berinteraksi dengan makhluk gaib. Sementara dunia gaib sendiri divisualisasikan sebagai ‘dunianya perempuan'. Profesi yang berhubungan dengan alam gaib juga lebih banyak didominasi oleh perempuan (38.89%).
Secara umum, berdasarkan data ini, sinetron remaja masih menguatkan stereotip-stereotip yang banyak berlaku dalam dunia mistik: bahwa dunia gaib yang gelap dan hitam adalah dunianya perempuan, bahwa tokoh putih yang diwakili para pemuka agama selalu berjenis kelamin laki-laki. Walau tema mistik tidak sebanyak tema percintaan remaja, namun sinetron bertema mistik memperlihatkan betapa dominannya kekuatan mistik mengerangka hidup manusia. Kegagalan, kesuksesan, semua dapat diraih secara instan berkat kekuatan mistik atau cara-cara mistik.
C. Adegan Seks dalam Sinetron Remaja Indonesia
Tema dominan dalam sinetron remaja kita berkutat pada percintaan. Karenanya tak aneh jika banyak muncul adegan-adegan yang mengekspresikan kedekatan dan intensitas hubungan pria-wanita: ciuman, pelukan, dan ‘sedikit nyerempet'. Mari kita lihat adegan hubungan macam apa yang muncul dalam sinetron remaja Indonesia.
Adegan seks yang ditemukan dalam sinetron remaja Indonesia sebagian besar berpusat pada ‘hubungan seks' (57%). Adegannya memang tidak secara langsung memperlihatkan hubungan seks, namun shot pembukanya sudah cukup mengasosiasikan bahwa hubungan tersebut (akan) terjadi. Selanjutnya, adegan ciuman (18%), pemerkosaan (12%), dan kata-kata cabul (10%). Biar sedikit, ditemukan juga adegan telanjang (2%) dan seks menyimpang (1%). Walaupun porsinya kecil, namun kenyataan bahwa adegan semacam itu muncul, itulah sesungguhnya fenomena yang perlu dicermati.
Pelaku adegan seks, dilihat dari variabel gender, didominasi oleh laki-laki. Persentase terbesar laki-laki sebagai pelaku adegan seks muncul pada adegan perkosaan (74%) yang dilakukan oleh pemeran pembantu pria.
Tabel 7.
Yang menarik adalah tidak selamanya laki-laki menjadi pelaku dominan adegan seksual. Dalam adegan telanjang, porsi laki-laki dan perempuan sama besar (33%). Perempuan juga terlibat secara dominan dalam adegan hubungan seks (25%) dan kata-kata cabul (31%).
Bukan lagi sekadar ciuman, adegan seks yang ditemukan dalam sinetron remaja sepanjang 2006-2007 cukup beragam. Penelitian ini bahkan mendapati bahwa adegan hubungan seks mengungguli adegan-adegan seks lainnya. Sekali lagi, kita tidak berbicara banyak sedikitnya. Namun, fakta bahwa adegan-adegan itu ada, itulah yang mesti diwaspadai.
D. Moralitas Sinetron Remaja Indonesia
Menentukan bermoral tidaknya sebuah sinetron bakal menimbulkan perdebatan tanpa henti menyangkut ukuran-ukuran atau indikator-indikator moralitas. Penelitian ini tidak mau terjebak dalam perdebatan semacam itu. Adegan kekerasan, adegan mistis, dan adegan seks pada dasarnya adalah adegan-adegan yang tidak sesuai dengan moralitas. Maka, berdasarkan temuan tersebut, berikut adalah data yang dapat ditampilkan.
Dalam praktiknya, para coder tidak hanya bertugas meneliti adegan-adegan yang mengandung unsur kekerasan, mistis dan seks. Coder juga diwajibkan untuk mengidentifikasi adegan-adegan yang sesuai atau tidak sesuai dengan moralitas. Hasil identifikasi tersebut memperlihatkan bahwa sinetron remaja kita memang didominasi oleh adegan yang tidak sesuai dengan moralitas (86%). Adegan yang sesuai dengan moralitas (seperti menolong teman, menghormati orangtua, bersikap sopan, berdoa) hanya ditemukan tak lebih dari 14%.
Demikianlah potret sinetron remaja Indonesia sepanjang 2006-2007. Penelitian ini menunjukkan potret ini tampak buram. Dampaknya tentu saja kepada kaum muda, khalayak penonton yang potensial terpengaruh apa yang ditontonnya dalam sinetron remaja. Jika potret sinetron remaja buram seperti yang terlihat dari hasil penelitian ini, kita patut mencemaskan bagaimana "wajah" remaja kita.
Kami percaya, potret itu memang buram, tetapi bukan berarti tak bisa diperbaiki.
(Tim Peneliti dan Yayasan Pengembangan Media Anak)
Catatan: Untuk mendapatkan prosiding seminar "Wajah Buram Sinetron Remaja Indonesia", sampaikan permintaan anda ke YPMA melalui e-mail: kritismedia@gmail.com

