Proposal Penelitian Bersama
"Potret Sinetron Remaja Indonesia"
A. Latar Belakang
Mencermati perkembangan siaran televisi dalam beberapa tahun terakhir ini, makin terasa bahwa regulasi bidang siaran televisi dan pelaksanaannya tidak cukup mampu menghasilkan isi siaran yang sopan, bermartabat, dan menghibur secara sehat serta aman bagi anak dan remaja. Saat ini, telah ada 11 stasiun televisi yang bersiaran secara nasional. Siaran ini dapat ditangkap oleh sekitar 40 juta rumah tangga yang memiliki televisi di Indonesia. Bila satu rumah tangga beranggotakan 5 orang, artinya penonton TV di Indonesia mencapai kurang lebih 200 juta jiwa.
Bila diasumsikan bahwa setiap stasiun TV bersiaran selama 20 jam sehari, maka pada saat ini setiap hari ditayangkan sekitar 220 jam acara TV yang berasal dari luar maupun produksi lokal. Dalam setahun, diperoleh angka kurang lebih 80.000 jam! Sinetron menjadi jenis tayangan yang paling menonjol dan paling tinggi frekuensinya penayangannya dibandingkan jenis acara televisi lainnya.
Sinetron dengan segmen remaja memang menjadi sasaran utama karena potensi jumlah penontonnya yang sangat besar, tidak saja dari mereka yang berumur 12-18 tahun, tetapi juga ditonton oleh anak-anak dan orang tua. Namun sayangnya hampir tidak ada penelitian dan pemantauan yang dilakukan secara intensif dan berkesinambungan terhadap materi tayangan sinetron remaja. Padahal keluhan akan tayangan sinetron telah sering dilontarkan dalam berbagai diskusi publik, artikel surat kabar/majalah, dan surat pembaca surat kabar. Isi sinetron yang terkait dengan kekerasan, seks, mistis, dan moral menjadi keluhan yang utama.
Untuk itu, berbagai lembaga yang peduli akan isi tayangan televisi, baik LSM ataupun perguruan tinggi yang memiliki jurusan Ilmu Komunikasi merencanakan untuk melakukan penelitian bersama dengan judul 'Potret Sinetron Remaja Indonesia'. Penelitian ini dimaksudkan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan sosial perguruan tinggi terhadap masyarakat Indonesia.
B. Tujuan Penelitian
1. Memperlihatkan seberapa sering isi yang menyangkut kekerasan, seks, mistis, dan moral ditampilkan dalam sinetron remaja Indonesia.
2. Mendeskripsikan bagaimana kekerasan, seks, mistis, dan moral digambarkan dalam sinetron remaja Indonesia.
3. Mengelompokkan sinetron remaja Indonesia berdasarkan tema cerita, umur karakter utama, permasalahan yang muncul, stasiun TV yang menayangkan, rumah produksi, waktu penayangan, dll.
C. Manfaat
Hasil studi yang teruji secara ilmiah dapat menjadi sumber informasi yang terpercaya dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan.
Pertama, agar masyarakat memiliki informasi mengenai isi dan kualitas sinetron remaja Indonesia sehingga mereka lebih bisa menentukan sikap.
Kedua, hasil studi akan digunakan sebagai bahan advokasi ke pengelola televisi, lembaga regulator penyiaran di Indonesia, dan berbagai institusi lainnya agar kualitas sinetron remaja kita meningkat.
D. Hasil Penelitian
Hasil penelitian akan ditulis dalam bentuk laporan penelitian, dan akan menjadi milik bersama dari institusi yang melakukan penelitian bersama. Direncanakan, hasil penelitian bersama akan dipublikasikan secara luas baik melalui media cetak maupun dalam bentuk buku.
E. Konseptualisasi
Sinetron remaja: sinema elektronik di televisi baik yang berseri panjang / pendek, ataupun sekali tayang yang karakter utamanya masih berusia 12-18 tahun (ditandai dengan seragam sekolah putih-biru atau putih-abu) atau yang alur ceritanya berada seputar masalah remaja (sekolah, pertemanan, pacaran, dll).
Kekerasan:
Seks:
Mistis:
Moral:
Partisipan: tokoh/karakter yang melakukan/mendapat perbuatan tertentu (menyangkut kekerasan, seks, moral, atau mistis) pada/dari tokoh lain. Partisipan dapat dibagi menjadi pelaku dan korban.
F. Metode Penelitian
Populasi: Sepanjang tahun 2006, televisi nasional di Indonesia telah menayangkan sebanyak kurang lebih 178 judul sinetron remaja (83 sinetron berseri, 95 sinetron pendek atau sekali tayang), dengan total 3.641 episode atau setara dengan lebih kurang 4.019 jam.
Sampel: Berdasarkan data AGB Nielsen setiap bulan pada tahun 2006 dipilih judul sinetron yang memiliki rating tinggi (masuk dalam Top 20 Program per bulan), seperti:
Januari: -Bawang Merah Bawang Putih (RCTI)
-Anakku Bukan Anakku (RCTI)
-Demi Cinta (RCTI)
dan seterusnya.
Jenis penelitian: Analisis isi secara kuantitatif dan kualitatif.
Analisis data secara kuantitatif akan menggunakan statistik deskriptif (frekuensi, mean, median, modus, dll). Sedang analisis data secara kualitatif akan mendeskripsikan setiap judul sinetron berdasarkan
G. Kontrol Kualitas
Kontrol terhadap kualitas penelitian dapat dilakukan dalam beberapa tahap:
1. Saat penyusunan rancangan penelitian face validity
2. Melakukan pretest terhadap satu atau dua sinetron.
3. Saat coding dan analisis data inter-rater reliability (satu sinetron di-koding dan analisis oleh dua tim peneliti atau dua orang peneliti).
H. Tim Peneliti
Koordinator Kegiatan : B. Guntarto, YPMA
Koordinator Penelitian : Hendriyani, Universitas Indonesia
Koordinator Kerjasama Institusi : Billy Sarwono, Universitas Indonesia
Santi Indra Astusi, Universitas Islam Bandung
Agustina, Universitas Mercu Buana
Koodinator Advokasi&Publikasi : Yuni Alfiah, Universitas Paramadina
Sekretariat : YPMA dan Universitas Indonesia
Keterangan:
- Setiap universitas yang bersedia bergabung dalam penelitian bersama ini diharapkan memberi dua nama sebagai contact person.
- Setiap universitas diharapkan menyusun sendiri tim peneliti mereka.
I. Jadwal Penelitian
1. Penyusunan Rancangan Penelitian (Research Design)
2. Pertemuan untuk menyepakati Rancangan Penelitian
3. Pretest
4. Pertemuan untuk bahas hasil prestest
5. Coding dan Analisis data
6. Pertemuan untuk bahas hasil coding dan analisis (sebaiknya sebelum proses koding dan analisis selesai)
7. Interpretasi data
8. Penulisan laporan penelitian (pertemuan bersama selama beberapa hari?)
9. Sosialisasi hasil penelitian pada publik
J. Biaya Penelitian
Biaya yang menjadi beban YPMA adalah:
1. Penyediaan materi rekaman sinetron remaja dalam bentuk DVD-R dan pengirimannya.
2. Biaya pertemuan-pertemuan
3. Akomodasi dan konsumsi pertemuan untuk menyusun laporan
4. Biaya sosialisasi hasil penelitian, termasuk biaya Konperensi Pers bersama.
Biaya yang menjadi beban perguruan tinggi yang bersedia bergabung adalah:
1. Honorarium ketua dan tim peneliti
2. Biaya transpor, konsumsi rapat, komunikasi, maupun ATK
Apabila diperlukan, YPMA bersedia membantu menggali potensi pendanaan baik dari kalangan internal perguruan tinggi maupun dari luar.
K. Operasionalisasi Konsep
1. Aspek Kuantitatif
a. jumlah judul sinetron
b. jumlah episode
c. jumlah jam
d. pembagian umur
e. jumlah adegan kekerasan
f. jumlah kebaikan
g. jumlah tema
h. jumlah cara penyelesaian
i. jumlah permasalahan yg muncul
2. Aspek Kualitatif
a. Ringkasan cerita secara umum (bukan per-episode)
b. Pengenalan tokoh dan karakternya secara umum
c. Pola-pola pemunculan konflik dan bagaimana konflik diselesaikan
d. Bagaimana kekerasan, sex, mistis/supranatural dan moralitas/norma digambarkan
e. Penguatan atau pembantahan stereotipe (gender, umur, etnis)
f. kebaikan yg dimunculkan
g. tema sentral cerita (pelajar, rumah tangga, perselingkuhan, dll)
h. Siapa pelaku dan korban kekerasan
i. Bagaimana hubungan antara korban dan pelaku
j. Pre-requistik kekerasan tersebut (alasan kekerasan tersebut dilakukan).

